Sabtu, 28 September 2013

Empat Amalan Berkendaraan

Berkendaraan merupakan aktivitas
sehari-hari di masa kini. Sederhana
nampaknya. Akan tetapi perjalanan
kita sukses atau tidak, selamat atau
celaka, bahkan senang atau menderita
juga ditentukan oleh kendaraan yang
kita tumpangi.
Ke Bandung dari Jakarta yang
semestinya ditempuh tiga jam lewat
jalan Tol bisa menjadi empat atau
lima jam jika lewat Cianjur Bogor.
Belum lagi apakah kendaraan itu
sehat atau sakit-sakitan. Mogok di
jalan dan diperbaiki dua jam di
bengkel bakal memperpanjang waktu
tempuh. Ke Surabaya naik pesawat,
kereta atau mengendarai mobil bagi
beberapa kalangan dapat
mempengaruhi kesuksesan bisnis.
Demikian juga di dalam kota kita
senantiasa berhubungan dengan
kendaraan apakah mobil pribadi,
angkutan umum, motor, atau
kendaraan lainnya. Hampir
keseharian kita bersentuhan dengan
alat transportasi yang kita kendarai.
Kendaraan ini menjadi sarana untuk
mengangkut dari satu tempat ke
tempat lain. Memenuhi maksud atau
hajat yang hendak dituju. Meskipun
kita yang punya motif dan ikhtiar
untuk mengendarainya, namun
hakekatnya Allah lah yang
“mengendalikan” nya.
Agama memiliki kepedulian dan
menilai tinggi bepergian dengan
kendaraan ini. Allah angkut hambanya
di darat dan di laut agar ia mendapat
rezeki yang baik-baik (QS Al Israa
70). Alquran menyinggung kendaraan
pengangkut masa lalu ada unta, kuda,
keledai, bahkan gajah. Seluruhnya
disediakan untuk manusia agar
terpenuhi hajat kebutuhannya. Kini
dengan kendaraan yang lebih beragam
dan modern kita pun tetap
menempatkannya sebagai karunia
Allah yang besar. Untuk itu amalan
keagamaan dalam berkendaraan patut
untuk mendapat perhatian, yaitu:
Pertama, menaiki dengan bismillah
dan tawakkal kepada Allah.
“ Bismillahi tawakkaltu alallahi laa
haula walaa quwwata illa billah”.
Segala hal yang diawali dengan
bismillah dan tawakal kepada Allah,
insya Allah membawa berkah dan
keselamatan.
Kedua, berdoa yang disunnahkan
Rasulullah, doa dahsyat mana dinilai
sangat penting untuk memayungi
perjalanan berkendaraan kita. Unsur-
unsur do’a dalam Hadits Riwayat
Sya’fiie ini adalah:
-- Setelah bertakbir, membaca
“ Subhaanal ladzii sakhkharolanaa
haadzaa wa maa kunnaa lahu
muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa
lamunqolibuun ” (Mahasuci Allah yang
telah menundukkan kendaraan ini,
padahal kami tak kuasa
menundukkannya dan kepada Allah
lah kami semua dikembalikan).
Pernyataan Ini merupakan pengakuan
dan kesadaran bahwa Allah yang
menggerakkan dan mengendalikan
kendaraan tersebut.
-- “Allahumma innaa nas’aluka fie
safarinaa hadzal birro wat taqwa wa
minal ‘amali maa tardhoo” (Ya Allah
kami mohon kepadamu dalam
perjalanan ini kebaikan dan
ketakwaan serta amal yang diridhoi).
Perjalanan yang membawa manfaat.
Jangankan keburukan, amal yang sia-
sia pun mohon agar dihindarkan.
-- “Allahumma hawwin ‘alainaa
safaronaa hadzaa wa athwi ‘annaa
bu’dahu ” (Ya Allah mudahkanlah
perjalanan ini, dekatkanlah jarak
jauhnya). Berkendaraan dapat
mengesalkan dan mungkin mengalami
berbagai kesulitan, kita mohon agar
dimudahkan. Jarak sejauh apapun
kiranya dapat dirasakan dekat. Sebab
sebaliknya, kadang jarak dekat pun
dirasakannya jauh dan mengesalkan.
Faktor kemacetan misalnya.
-- “Allahumma antash shoohibu fiis
safar wal kholiifatu fiil ahl” (Wahai
allah, Engkau adalah sahabat dalam
perjalanan dan pengganti dalam
keluarga hamba). Nah dengan ini akan
tenanglah kita, karena bagaimana
tidak, Allah yang menemani
perjalanan dan Allah pula yang
mengatur, mengurus, dan melindungi
keluarga yang ditinggalkan.
-- “Allahumma inni a’uudzubika min
wa’tsaa-is safar, wa ka-abatil
mandhor, wa su-il munqolabi fiel
maali wal ahl” (Ya Allah aku
berlindung dari kesulitan perjalanan,
dan performance yang jelek dalam
urusan harta dan keluarga
sekembalinya nanti). Alangkah
bahagianya jika sekembali dari
bepergian Allah SWT memberikan
banyak harta dan keceriaan keluarga.
Ketiga, selama di perjalanan tentu
banyak beristghfar dan berzikir,
mengingat Allah. Rasulullah SAW jika
berkendaraan berjalan mendaki
senantiasa memperbanyak takbir, jika
jalan menurun maka Beliau SAW
memperbanyak kalimat tasbih.
Dengan demikian akan selalu terjaga
dan waspada.
Keempat, Jika telah hampir tiba, kita
bermohon agar tempat yang dituju
memberi kebaikan dan terlindungi
dari berbagai kejelekan yang merusak
dan membahayakan. “A llahumma inni
as-aluka khoirohaa wa khoiro ahlihaa
wa khoiro maa fiihaa. Wa a’uudzubika
min syarrihaa wa syarri ahlihaa wa
syarri maa fiihaa” (Ya Allah, aku
memohon kebaikan, kebaikan
penduduknya, dan kebaikan segala
sesuatu yang ada di tempat ini. Aku
berlindung dari kejelekan, kejelekan
penduduknya, dan kejelekan segala
sesuatu yang ada di tempat ini).
Dengan amalan yang dituntunkan oleh
agama ini, insya Allah berkendaraan
kita akan aman, nyaman, dan menjadi
jalan bagi kesuksesan yang akan
didapat di depan. Ada dalam
pertolongan dan perlindungan Allah.
Terlalu banyak terjadi kecelakaan
memilukan yang disebabkan oleh
faktor kelalaian.

Sumber : republika online

0 komentar:


Blogspot Template by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Lincah.Com - Vauxhall Cars