Oleh Prof Yunahar
Ilyas
Walaupun umurnya sudah mendekati
tujuh puluh tahun, tetapi badannya
masih tegap. Kalau berjalan masih
cepat seperti kebiasaannya sejak
muda.
Setiap pagi setelah shalat Subuh sang
kakek rutin jalan pagi menempuh
jarak 6-8 km pulang pergi. Menurut
pengakuannya, waktu muda sang
kakek suka main sepak bola.
Bergabung dengan klub sepak bola di
kampungnya.
Setelah menamatkan pendidikan
setingkat sekolah lanjutan pertama,
dia mulai berdagang, walaupun
bapaknya sebenarnya menginginkan
dia meneruskan sekolahnya ke tingkat
yang lebih tinggi, minimal setingkat
sekolah lanjutan atas.
Sebagai seorang pedagang yang
sukses, bapaknya sanggup membiayai
pendidikannnya sampai ke perguruan
tinggi. Tetapi rupanya darah dagang
bapaknya lebih menonjol
mempengaruhi dirinya.
Mula-mula dia berdagang di kota
tempat kelahirannya, lalu kemudian
merantau. Berpindah dari satu kota ke
kota lainnya di pulau Sumatera,
kemudian ke Singapura dan Malaysia.
Pada akhir masa-masanya
berdagang, sempat juga dia
merasakan bagaimana kerasnya
kehidupan di kota Jakarta.
Sudah lebih sepuluh tahun sang kakek
pensiun dari berdagang dan menetap
di kampung halamannya. Hari-hari
tuanya benar-benar dia nikmati untuk
beribadah.
Hidupnya hanya bergerak dari rumah
ke masjid. Setelah selesai shalat
malam, dia bersiap pergi ke masjid
untuk shalat Subuh. Selesai shalat
Subuh, kalau tidak ada pengajian, dia
bergegas pulang berganti pakaian olah
raga, terus jalan pagi.
Sebelum waktu Zhuhur dia sudah
berjalan menuju masjid. Begitu juga
sebelum Ashar dan Maghrib. Setelah
Maghrib dia tidak pulang, membaca
Al-Qur'an dan berzikir di masjid
menunggu Isya'.
Kadang-kala antara Maghrib dan 'Isya
ada pengajian, maka sang kakek akan
mengikutinya dengan tekun. Para
muballigh yang rutin mengisi
pengajian di masjid itu sudah hafal
dengan wajah sang kakek.
Kalau shalat dia selalu di shaf
pertama, mengambil posisi tidak tepat
di belakang imam, tetapi agak kekiri
sedikit. Jamaah lain pun sudah hafal
posisi sang kakek, sehingga tidak ada
yang mengambil posisi itu.
Kalau pun ada yang akan mengambil
posisi itu, biasanya kalah cepat dari
sang kakek, karena dia sudah berada
di sana sebelum waktu shalat masuk.
Seisi rumah, apalagi cucu-cucunya
sudah hafal. Jika sang kakek sudah
sibuk ke kamar mandi pertanda tidak
lama lagi waktu shalat akan masuk.
Sebelum meninggalkan rumah, tidak
lupa sang kakek mengingatkan seisi
rumah untuk segera bersiap-siap
melaksanakan shalat.
Terutama sebelum Ashar dan Maghrib,
tatkala cucu-cucunya masih asyik
menonton televisi, akan terdengar
suara kakek: " Ayoo semua, shalat…
shalat…matikan tivi… "
Tidak jarang cucunya menjawab:
" belum azan kakek…waktunya masih
lama. .." Jika cucu-cucunya masih
membandel, tidak jarang kakek
bertindak mematikan televisi. Baginya
shalat di awal waktu lebih penting dari
semua acara televisi itu.
Jarak dari rumah sang kakek ke
masjid sekitar setengah kilometer.
Melewati jalan yang kiri kanannya
penuh warung dan toko. Penjaga
warung dan toko sudah sangat hafal,
jika sang kakek lewat di depan
warung dan toko mereka menuju arah
masjid, berarti waktu shalat sudah
hampir masuk.
Sang kakek dijadikan sebagai
penanda waktu-waktu shalat akan
masuk. Setelah sang kakek meninggal
dunia, tidak ada lagi orang lewat di
depan warung dan toko yang bisa
dijadikan penanda waktu.
Sumber :
m.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/10/01/mtzz45-kakek-penanda-waktu